
Bajakah, tanaman yang memiliki nama ilmiah Spatholobus littoralis, merupakan salah satu kekayaan flora endemik yang berasal dari wilayah kepulauan Indonesia dan Filipina. Tanaman ini berada di dalam genus Spatholobus dan termasuk dalam famili suku polong-polongan atau Leguminosae.
Dalam literatur botani dan taksonomi tumbuhan, Spatholobus littoralis memiliki beberapa nama sinonim resmi yang turut diakui, di antaranya adalah:
- Butea littoralis (Hassk.) Blatt.
- Derris leytensis Merr.
- Spatholobus leytensis Merr.
Secara habitat alami, persebaran tumbuhan bajakah di Indonesia terkonsentrasi di dua pulau besar, yakni Kalimantan dan Jawa. Karakteristik morfologi tanaman ini umumnya tumbuh berupa semak belukar atau tumbuhan merambat yang subur di kawasan ekosistem hutan hujan tropis yang basah, lembap, serta kaya akan unsur hara.
Karakteristik dan Pemanfaatan Tradisional oleh Suku Dayak
Di wilayah Kalimantan Tengah, tanaman bajakah kerap dijumpai dalam wujud semak atau pohon berukuran sedang yang dilengkapi dengan sistem perakaran merambat yang sangat panjang. Sulur akar rambat dari pohon bajakah ini bahkan mampu menjalar di atas permukaan tanah atau menggantung pada pepohonan lain dengan panjang mencapai lebih dari 5 meter.
Sejak turun-temurun, bagian akar inilah yang menjadi primadona bagi masyarakat adat Suku Dayak. Akar bajakah diolah secara tradisional dan diyakini memiliki khasiat tinggi sebagai obat herbal yang mujarab untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pengetahuan lokal, diketahui pula bahwa bukan hanya bagian akarnya saja, melainkan hampir seluruh elemen dari pohon bajakah mulai dari batang hingga bagian lainnya menyimpan potensi besar sebagai pengobatan alternatif.
Ragam Jenis Spesies Pohon Bajakah di Pedalaman Kalimantan
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, di dalam lebatnya hutan pedalaman Kalimantan, setidaknya terdapat tiga spesies utama pohon bajakah yang paling dikenal dan dimanfaatkan karena khasiat farmakologisnya yang luar biasa. Ketiga jenis tersebut meliputi:
1. Bajakah Tampala (Spatholobus littoralis)
Spesies inilah yang menjadi representasi utama tanaman bajakah secara umum. Ekstrak dari bagian batangnya kaya akan senyawa fenolik, flavonoid, tanin, dan saponin. Oleh masyarakat lokal, ekstrak kayu bajakah tampala tidak hanya diandalkan untuk mempercepat penyembuhan luka terbuka, tetapi juga dipercaya secara turun-temurun sebagai bagian dari ikhtiar pengobatan tradisional untuk melawan penyakit mematikan seperti kanker.
2. Bajakah Kalalawit (Uncaria gambir)
Dikenal pula oleh masyarakat luas dengan sebutan populer Gambir Serawak. Spesies ini memiliki profil kandungan kimia yang istimewa, yakni kaya akan phenol, sifat antibakteri alami, serta konsentrasi senyawa katekin yang sangat tinggi. Kandungan katekin inilah yang membuat bajakah kalalawit memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa, mulai dari perannya sebagai antioksidan pencegah penyakit kardiovaskular (penyakit jantung), membantu proses penurunan berat badan (diet), hingga menstimulasi pembentukan kolagen demi kesehatan kulit dan jaringan tubuh.
3. Bajakah Lamei (Spatholobus sp.)
Berbeda dengan dua jenis sebelumnya yang lebih fokus pada penyembuhan luka, kanker, dan kesehatan jantung, bajakah lamei memiliki fungsi spesifik yang berkaitan dengan sistem pencernaan. Masyarakat di wilayah Kalimantan Tengah secara tradisional mengolah cairan yang terkandung di dalam batang pohon bajakah lamei untuk diminum, di mana ramuan alami ini dipercaya sangat ampuh dalam meredakan dan menyembuhkan penyakit diare.
Dinamika Ekonomi dan Dampak Konservasi Bajakah
Popularitas tanaman bajakah sempat mengalami lonjakan yang sangat drastis di tengah masyarakat. Dahulu, sebelum dikenal luas sebagai tanaman obat mujarab penakluk penyakit berat seperti kanker dan gangguan jantung, kayu dari pohon bajakah memiliki nilai ekonomis yang relatif rendah, yakni berkisar antara 20.000 hingga 30.000 rupiah per kilogram.
Namun, semenjak berbagai khasiat medisnya terekspos ke publik nasional maupun internasional, harga komoditas kayu dan akar bajakah melambung secara drastis hingga menyentuh angka jutaan rupiah per kilogramnya.
Di satu sisi, lonjakan harga ini mendatangkan berkah ekonomi sementara bagi sebagian warga lokal. Namun di sisi lain, fenomena ini membawa dampak ekologis yang cukup mengkhawatirkan. Tingginya nilai jual akar dan batang bajakah memicu maraknya aksi perburuan liar. Banyak pihak luar yang dengan sengaja datang dan menjelajahi pedalaman hutan Kalimantan Tengah semata-mata untuk mengeksploitasi serta memburu keberadaan pohon bajakah langsung dari habitat alaminya, yang apabila tidak segera diawasi, berpotensi mengancam kelestarian populasi tanaman obat langka ini di alam bebas.






