
Pasak bumi, atau yang secara luas dikenal pula dengan sebutan Tongkat Ali, merupakan salah satu spesies tanaman herbal berkayu yang mempunyai nilai ekologis serta ekonomis yang sangat tinggi. Tanaman ini memiliki nama latin Eurycoma longifolia, yang tergabung ke dalam famili Simaroubaceae dan tumbuh secara liar di dalam ekosistem hutan hujan tropis, khususnya di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia (terutama di Sumatra dan Kalimantan), Malaysia, Thailand, hingga Vietnam.
Di alam liar, pohon pasak bumi memiliki identifikasi fisik yang sangat unik dan mudah dikenali jika dibandingkan dengan vegetasi hutan lainnya. Berikut adalah penjabaran yang lebih mendalam mengenai morfologi dan ciri-ciri setiap bagian dari pohon pasak bumi:
Ciri-Ciri Daun Pasak Bumi
Daun pasak bumi memiliki ciri khas yang cukup menonjol, yaitu bertipe daun majemuk menyirip gasal (imparipinnate). Daunnya tersusun dalam satu tangkai panjang utama yang bisa mencapai ukuran 20 hingga 40 cm bahkan lebih, terdapat puluhan anak daun yang tersusun secara rapat dan melingkar (rosette) di ujung atas batangnya. Jumlah anak daun ini biasanya ganjil, berkisar antara 13 hingga 41 lembar per tangkai.
Bentuk helai anak daunnya berbentuk lanset (lanceolate) atau lonjong (oblong) dengan bagian ujung yang meruncing serta tepi daun yang bergelombang (undulate). Permukaan atas daun berwarna hijau tua dengan tekstur yang rimbun.
Ciri-Ciri Bunga Pasak Bumi
Bunga pasak bumi bersifat dioecious (terdapat pohon jantan dan betina secara terpisah). Bunga-bunga ini berukuran kecil dan tersusun dalam malai yang cukup padat pada tangkai bercabang, yang biasanya tumbuh langsung dari ketiak daun atau bagian pangkal percabangan.
Mahkota bunga pasak bumi mempunyai warna yang menarik, mulai dari merah muda hingga merah tua, dilengkapi dengan bulu-bulu halus (puber) di bagian permukaannya.
Tanaman dewasa umumnya mulai memasuki musim pembungaan secara masif pada pertengahan tahun, yakni sekitar bulan Juni hingga Juli.
Ciri-Ciri Buah Pasak Bumi
Setelah proses penyerbukan berhasil, bunga akan berkembang menjadi buah yang tumbuh secara menggerombol dalam malai.
Buah pasak bumi berbentuk bulat telur atau lonjong (oval) dengan panjang sekitar 1-2 cm dan lebar 0,5-1 cm. Ketika masih muda, buahnya berwarna hijau atau coklat kekuningan, namun akan berubah menjadi warna jingga, merah gelap, hingga merah kecoklatan saat sudah benar-benar matang (biasanya memasuki bulan September). Di dalam buah tersebut terdapat biji dengan cangkang yang keras.
Ciri-Ciri Tanaman Pasak Bumi
Secara umum, pasak bumi dikategorikan sebagai tanaman semak atau pohon berukuran kecil hingga sedang. Di habitat aslinya, tinggi pohon ini dapat berkisar antara 4 hingga 7 meter, bahkan pada beberapa kondisi lingkungan yang sangat mendukung, pertumbuhannya bisa mencapai lebih dari 10 meter.
Batang pasak bumi terkenal karena sifatnya yang tumbuh tegak lurus dan cenderung tidak bercabang. Jika pun memiliki cabang, jumlahnya sangat sedikit dan biasanya membentuk struktur menyerupai payung terbuka.
Batang utamanya tergolong kokoh, memiliki kulit kayu yang keras dengan variasi warna mulai dari coklat keabu-abuan hingga kekuningan, serta permukaan kulit yang relatif licin.
Di alam bebas, tanaman pasak bumi umumnya dapat ditemukan tumbuh di kawasan hutan dataran rendah, hutan sekunder, area bekas ladang, atau tepian hutan. Tanaman ini dikenal cukup toleran terhadap berbagai jenis tipe tanah, namun ia sangat menyukai struktur tanah yang gembur, berpasir, memiliki tingkat keasaman (pH) cenderung asam, serta memiliki sistem drainase air yang baik sehingga akarnya tidak mudah membusuk oleh genangan air.
Sistem Perakaran (Bagian Paling Bernilai)
Bagian dari tanaman pasak bumi yang paling ikonik dan sering menjadi pusat perhatian adalah sistem perakarannya.
Pasak bumi memiliki sistem akar tunggang yang sangat kuat, besar, dan menghujam jauh ke dalam lapisan tanah secara vertikal (bisa mencapai kedalaman hingga 2 meter atau lebih) tanpa membentuk banir (akar papan) yang melebar di permukaannya.
Akar pasak bumi memiliki karakteristik rasa yang sangat pahit karena tingginya kandungan senyawa bioaktif di dalamnya. Dalam taksonomi lokal masyarakat, pasak bumi kerap dibedakan berdasarkan warna akarnya, seperti jenis pasak bumi putih, pasak bumi kuning, hingga varietas pasak bumi merah yang kerap diteliti oleh akademisi.
Kandungan Senyawa dan Nilai Kegunaan
Nama “pasak bumi” melekat erat tidak hanya karena bentuk fisiknya yang menancap kuat di dalam tanah, tetapi juga karena khasiat obatnya yang mendunia. Bagian akarnya kaya akan senyawa penting seperti Eurycomanone (berfungsi sebagai anti-malaria), Canthin (menghambat sel kanker), Quassinoid (potensial sebagai anti-leukemia dan anti-HIV), serta senyawa Etanol yang bertindak sebagai afrodisiak alami guna meningkatkan vitalitas tubuh dan gairah seksual pria. Oleh sebab itu, tanaman ini banyak dibudidayakan serta diekstrak secara komersial untuk dijadikan bahan baku jamu, suplemen kesehatan, hingga campuran produk makanan dan minuman fungsional.








